Staf Ahli Menteri Pertanian Tinjau Penangkaran Kakao untuk Pemenuhan CPCL di Polewali Mandar
POLEWALI MANDAR-Kabupaten Polewali Mandar menerima kunjungan Staf Ahli Menteri Pertanian Republik Indonesia dalam rangka peninjauan lokasi penangkaran kakao guna memastikan kesiapan penyediaan bibit untuk memenuhi kebutuhan CPCL (Calon Petani dan Calon Lokasi) program pengembangan kakao di daerah tersebut.
Kegiatan peninjauan ini turut didampingi oleh Tim Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BBRMP) Sulawesi Barat, PJ Swasembada Pangan, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbuntarnak), Kelompok Fungsional Penyuluhan Provinsi, Ketua Tim Kerja (Katimker), serta para penyuluh pertanian kabupaten.
Peninjauan dilakukan sebagai bagian dari percepatan pelaksanaan program pengembangan kakao yang menjadi salah satu komoditas unggulan perkebunan di Kabupaten Polewali Mandar. Dalam kunjungan tersebut, rombongan melihat langsung kesiapan para penyedia bibit kakao unggul yang akan mendukung kebutuhan pengembangan lahan kakao di wilayah tersebut.
Salah satu penyedia bibit yang ditinjau adalah CV. Arafah Abadi yang saat ini menyiapkan sebanyak 2.500.000 bibit kakao untuk memenuhi kebutuhan CPCL seluas 2.500 hektare. Selain itu, tim juga meninjau kesiapan CV. Mario Mandiri Perkasa yang menyiapkan 2.750.000 bibit kakao guna mendukung kebutuhan CPCL seluas 2.750 hektare di Kabupaten Polewali Mandar.
Staf Ahli Menteri Pertanian menyampaikan bahwa kesiapan penyediaan bibit unggul menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan program pengembangan kakao nasional, khususnya di Sulawesi Barat yang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kakao potensial.
Melalui kunjungan ini diharapkan proses penyediaan bibit kakao unggul dapat berjalan optimal, tepat waktu, dan sesuai standar mutu sehingga mampu mendukung peningkatan produktivitas perkebunan kakao serta kesejahteraan petani di Kabupaten Polewali Mandar.
Program pengembangan kakao ini juga diharapkan dapat memperkuat sektor perkebunan daerah, meningkatkan daya saing komoditas kakao, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat berbasis pertanian di Sulawesi Barat.(HR/MN)